Recent Posts
Loading...

Author :
Puisi kau atau aku yang berdusta. Berdusta artinya mengatakan sesuatu hal yang tidak benar, adan umumnya berdusta merupakan sebuah perkataan yang menyesatkan. Berdusta berasal dari kata dasar dusta jadi, dusta sebuah pelanggaran paling serius terhadap suatu kebenaran. Dan berdusta berarti berbicara atau berbuat untuk melawan suatu kebenaran untuk menyesatkan orang/sesorang yang mempunyai hak untuk mengetahui suatu kebenaran.

Seorang yang suka berdusta adalah dia yang suka memutar balikkan fakta, dan perbuatan seperti ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari hari. baik dilingkunga kita maupun dengan orang orang dekat dengan kita, orang yag berdusta biasanya dikarenakan pembenaran dirinya sendiri dan terkadang juga untuk sesuatu hal yang diinginkan, jadi dengan cara berdusta sesuatu hal yang diingikan mungkin bisa dia gapai, akan tetapi walau bagaiman berdusta adalah perbuatan yang di larang oleh agama.

Berkaitan dengan kata tentang berdusta. puisi kau atau aku yang berdusta, satu dari delapan judul puisi campuran di kesempatan ini yang di tulis oleh seorang bernama Pena Omega, adapun masing masing judul puisinya antara lain.
  1. Puisi lupa dan mati
  2. Puisi waktu bertamu
  3. Puisi dua dekade
  4. Puisi semusim
  5. Puisi kau atau aku yang berdusta
  6. Puisi perang yang lain
  7. Puisi diperempatan kota
  8. Puisi rahasia sederhana
Bagaimana cerita dan makna dibalik rangkaian bait bait kedelapan puisi tersebut, yang di wakili puisi kau atau aku yang berdusta, untuk lebih jelasnya silahkah disimak saja puisinya berikut ini.

LUPA DAN MATI
Pena Omega

ada yang kulupa saat cuaca cerah
yaitu bagaimana cara mengingat hujan
layaknya satu mantel untuk dua motor berbeda
entah kuselipkan ia di bawah jok yang mana

ingatanku memang tak muda lagi
hingga biografipun enggan mendekat saat kucari
ah, tampaknya hobiku adalah berkhayal
sebab di mataku hidup terlalu sempit
kau tak boleh begini dan begitu
bernapaspun sertifikasi jika perlu

kurindukan masa indah belajar
dua gunung dan matahari di tengah dalam sebuah gambar
gambaranku adalah yang paling sedikit
tak lebih dari yang mereka masukkan ke dalam kotak sebelum meninggalkan toilet

tetapi kali ini khayalanku berbeda
aku bermimpi tentang satu kota
yang di dalamnya penuh dengan wanita
senyuman senyuman kecil di antara dua pipi nan mungil
tapi ada yang aneh di kota ini

" para pria kemana pergi
tak seorangpun kujumpai
"
"mereka semua mati"
seru salah seorang gadis dari sisi kiri

" mereka semua mati"
sahut seorang lagi dari sisi kanan

"apa penyebab kematian mereka"
tanyaku kembali

mereka dibunuh oleh ketakutan mengikat seutas tali

Jakarta, 29 Maret 2017


WAKTU BERTAMU
Pena Omega

engkau kedatangan seorang tamu
tamu masa lalu, masa yang tiada pernah bergurau katamu
kemudian ia menatapmu
seraya menukas

; " wajahmu masih sama seperti kemarin "

siapa tak kenal dia; kenangan
satu-satunya warisan seantero jagat silam
engkau terdiam, tertunduk perlahan
belum sempat balas sapamu kau lontar
terdengar isak tangis anak kecil

suara itu berasal dari dalam kamarmu
bayimu merindukan susu ibunya
sedang anak pertamamu tengah mengusap kepala adiknya
pemandangan ini bukanlah kali pertama

ada yang lebih sukar ketimbang mengubur jasad yang berkalung dua lambang
yaitu menyusun malam demi malam dari sebuah pengkhianatan

ada yang lebih sukar ketimbang meruntut sajak sadur seorang bocah kehilangan ibu
yaitu kedatangan seorang tamu dari masa lalu

Jakarta, 11 Juni 2017


DUA DEKADE
Pena Omega

menatap arah telunjuk dirgantara
aku pernah berpikir untuk menanggung seluruh dosamu
tepat setahun usai pertempuran di sudut kota itu

menyiksa rakyat jelata
membasmi seluruh keluarga raja
mengambil alih tahta

kau luputkan satu
dari ketiga sumpahmu
seorang anak dari sang ratu
katamu, " biarlah! yang kulihat tidak perlu kau lihat "

dua dekade berlalu
tubuh kekarmu perlahan menyusut
pun kulit di wajah sangarmu mulai keriput
otot-otot di lenganmu mengendur
kau mendengkur dalam tidur

dua dekade berlalu
sebuah kabar dari pengawal raja yang tersisa
putra mahkota tumbuh dᥱwasa - tanpa ibu di sisinya -
ia diasuh bumi, dilatih matahari

mendengar lantunan requiem for a tower
aku pernah berpikir untuk menanggung seluruh dosamu
dalam kamus pemuja emas
" tak berilmu tak pantas bernapas "
serapahmu, " mereka patut binasa! "

dua dekade berlalu
aku pernah berpikir untuk menanggung seluruh dosamu

Jakarta, 18 Juni 2017


SEMUSIM
Pena Omega

ada biru terselip
di kedua bola mata
menjelaga, tanpa keraguan
ketika kau bertanya;
“adakah kita mampu terus bertahan?”

barangkali, musim panen tahun ini melimpah
hingga kita tak perlu khawatir lagi
jika esok kemarau melanda
basuh cahaya keraguan dari wajahmu

gagal panen mungkin pernah kecewakan kita
menuakan peluh pada punggung paling letih
pun sejumlah gagak turut tertawa
seakan dilontarnya kata paling fatwa

tetapi kita telah melewatinya
dan berhasil menjawab dengan cinta
cinta?? apakah engkau pernah bertanya?
ah, rasanya tak perlu lagi aku berkata

Jakarta, 26 September 2015


KAU ATAU AKU YANG BERDUSTA
Pena Omega

pecah sunyiku meratapi harimu, tuan
meniti botol-botol bekas di halaman orang
serampangan!
gontai langkahmu menyumpah sembarang

dusta
katamu dalam sebuah umpatan
seakan tiada lagi keyakinan
sekalipun malam
sekalipun hitam
sekalipun kau punya Tuhan

lusuh
selembar gorden menutupi atap gerobakmu
ketika kau berkisah tampak di dalam
tentang hari demi hari yang menyusun bulan
patahkan saja as rodamu, tuan!
agar iblis yang berkuasa lebih leluasa

kenyang
pun seekor ular tahu tertidur
tetapi engkau terus saja memunguti waktu
tak ubahnya jahanam di negeri ini
tak kenal jemu

sia-sia
usah kau menatapku begitu sinis, tuan
karena aku hanya akan memantul
melewati hukum cahaya di balik kaca

Jakarta, 29 Juni 2017


PERANG YANG LAIN
Pena Omega

sedu-sedan itu huru-hara
ringkas berdandan setipis bara
seperti pesan isyarat senja
" hati-hati menyisip duri kalap babi,
salah mengunyah tertusuk rahang sendiri "

selaksa doa tertangkap mesra
laksana sebuah pesan singkat istri pada suami - lekas kembali -
ibarat dering alarm bagi para buruh pagi-pagi
adakah mungkin tak kuamini

hei! bocah yang berkawan nyala api
pulanglah! bantu ibumu menanak nasi
ladangmu gundah garam tumbuh di dada
lumbungmu resah remuk rasa mulut pecah

semisal tubuhmu beling dan serpihan-serpihan kaca
di dadamu mustahil keluar arca basudewa
" tapi rantau mana yang ingin pulang bawa hampa
darah mana yang bukan merah jika bertemu kekasihnya "

hei! pandai besi tulang lunak
indukku merpati bapakku kesturi
usah kau usir aku lagi, rumahku di sini!
urus kamarmu, sementara aku pergi

aku berjanji akan kuurus perangku sendiri!
dan jika nanti aku gugur sebelum kembali
bahkan musuhpun tahu cara menghormati

Jakarta, 30 Juni 2017


DI PEREMPATAN KOTA
Pena Omega

Angin yang berhembus menyerupai do'a
Membelai jiwa-jiwa lelah malam tadi
Mesra, bagi rumah-rumah yang menanti kedatangan

Padat sejenak meniti aliran warna merah
Sebelum berubah, dan kuning menyapa
Adalah sebuah irama yang kembali mengingatkan kita
Pada rindu-rindu yang menunggu ranumnya

Mereka sepakat untuk bersama melalui abad
Satu arah melaju yang lain menunggu
Merah setia menanti kuning hingga hijau menyapa

Yang ramai di perempatan kota malam tadi
Adalah serupa hiruk pikuk dipadu rasa kantuk
Beroda, mendengar, dan terbawa

Yang ramai di perempatan kota malam tadi
Laksana dedoa para petualang senja
Menekuni hari yang memang inilah adanya

Bagi setiap jiwa sederhana
Bagi sendi-sendi yang mengalir kedamaian
Semoga mimpinya lekas menjadi nyata
Sedalam balutan kasih dan dekapan angan

Jakarta, 07 Juli 2017


RAHASIA SEDERHANA
Pena Omega

di bantala cata
getih dawala mengastawa
mengejawantah aksara
mohonkan penedah dirgantara

dari setiap diksi
untuk sebuah nama
kupanggil Engkau
Pemilik segala rahasia

di ranahMu
tempatku berpijak
memahat hitam-putih denyut nadi
menempa keinginan luhur
keinginanMu juga

sederhana saja
kusembunyikan ia--rasa paling rahasia
pada malam, pada sunyi
padamu juga

sederhana saja
aku cinta

Jakarta, 09 Juli 2017
-----

Demikianlah puisi kau atau aku yang berdusta. Simak/baca juga puisi yang lain di blog ini, semoga kedelapan puisi di atas dapat menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

disqus comments