Breaking News
Loading...

Puisi gubuk senja. Pengertian gubuk adalah rumah kecil yang  biasanya di pergunakan untuk sementara waktu, Atau rumah sementara, gubuk biasa juga disebut dangau rumah kecil atau pondok disawah/ladang untuk berteduh ketika menjaga tanaman.

Gubuk senja, apabila diartikan dalam bahasa kiasan maka maka arti dari kata gubuk senja adalah rumah kecil yang sudah tua, sebagaimana kita ketahui senja terkadang juga diartika dalam bahasa kiasan dengan sesutu hal yang sudah berumur, mengambil perumpamaan dari waktu, ketika senja telah tiba berarti waktu sudah tua, dan akan menjelang malam.

Gubuk senja, salah satu dari dua puisi teman campuran, atau aneka puisi karya seorang bernama Ulianisa Apriliani,  adapun masing masing judul puisinya, antara lain.
  • Puisi gubuk senja
  • Puisi hasrat langkas
Bagaimana cerita dan makna dari kedua puisi tersebut, untuk lebih jelasnya silahkan disimak saja berikut ini.

Gubuk Senja
Oleh: Ulianisa Apriliani

Pak, ingatkah engkau saat kita pertama bersua di ladang nostalgia ini
Menyaksikan betapa baharinya hamparan padi menguning
Menikmati kicau merdu camar yang terbang riang
Duduk berdua dalam gubuk kayu menikmati ubi jalar dan kopi yang kugendong dalam rinjing kala itu
Kita saling bercengkerama mengenai kurun-kurun dewasa yang akan tiba
Hingga tersadar bahwa hari semakin siang dan petang mulai menjelang

Pak, jikalau engkau tahu
Hingga kini gubuk persuaan itu masih ada
Ladang nostalgia dengan hamparan kuningnya adalah saksi bisu setia
Gelas kopi dan rinjing yang kugendong kala itu masih tetap sama

Pak.. Bicaralah pak...
Mengapa selama ini engkau membisu
Mengapa engkau hanya terdiam dibalik bingkai kaca itu
Apakah nisan itu telah menghalangimu
Apakah tanah kubur itu telah Menyekat dan menabir persuaan kita

Pak, lihatlah pak...
Hingga kini aku masih setia
Aku masih tetap disini
Duduk termenung di gubuk kayu
Menelisik memori nostalgia di
mega senja yang pernah kita bina bersama
Aku harap engkau bersabar menantiku disana
Karena Tak lama lagi
kita akan bersua



Hasrat langkas
Oleh: Ulianisa Apriliani

Hasrat - hasrat rindu mulai berguguran dalam hati gersang yang kian dilanda kemarau
Tak ada lagi yang bisa mencegah deru bayu menyapu mesra angan yang meranggas berserakan

Suara kicau itu, yang dulu begitu merdu intim bersebati
Sekarang hanya pekik parau yang merajam

Pendar asmara yang menelisik celah-celah kecil di relung hati , bukannya kian berkilau justru kian kelam sayu tertutup mega kelabu

Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari kerlip bintang ditengah dasyatnya pendar baskara
Dan kerikil kecil ingusan diantara kokohnya tubir

Angan yang kian meruap hilang hanya mencipta nostalgia bisu yang tak bersua. menyisakan khayalan dilema

Lalu apa yang kau harap dari secuil pungguk Tuhan yang terkungkung takdir? hamba melata yang belajar arti taqwa? Seorang sahaya yang
memahat jiwanya dalam taat.


Demikianlah puisi gubuk senja. Simak/baca juga puisi yang lain di blog ini, semoga puisi senja diatas dapat menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

Sekedar informasi Puisi-puisi yang ada di blog Pdkb sebagian bersumber dari status/karya member grup pdkb di facebook

Jika ada pembaca yang ingin berpartipasi puisi silahkan di kirim KE SINI
Dan Untuk berlangganan update Dari blog Puisi dan kata bijak ketikkan email anda di form di bawah ini :
icon

disqus comments

 
INFO KLIK