Breaking News
Loading...

Puisi tentang mendung. Pengertian mendung menurut kamu bahasa Indonesia mendung adalah awan yang mengandung hujan biasanya berwarna hitam merata di langit, menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Atau ketika dalam keadaan langit agak gelap, sinar matahari tak nampak dikarenakan tertutup awan.

Pada dasarnya didalam kehidupan sehari- hari cuaca mendung merupakan pertanda akan turunnya hujan. cuaca mendung ditandai dengan awan yang berwarna hitam. Biasanya kejadian nyata yang sering terlihat adalah semakin gelap langit tertutup awan mendung maka akan semakin deras pula hujan yang akan turun.

Namun dalam istilah atau pepatah, terkadang kata mendung diartikan sebagai susana hati yang sedih, seperti mendung tak berarti hujan yang biasa diartikan, kesedihan yang dialami tak selamanya harus meneteskan air mata, jika melihat dari arti mendung tak berati hujan, maka pepatah ini mengisyaratkan suatu kata bijak yaitu, ketabahan hati/jiwa dalam mengahdapai suatu permasalahan.

Dikalangan para pemuisi banyak diantara mereka seringkali mengibaratkan kata mendung sebagai suasana hati yang gundah gulana, sehingga seringkali mendung diartikan akan turunnya hujan air mata. karena adanaya suatu kesedihan, Namun jika menurut saya itu adalah hal yang wajar dalam kehidupan sebab kehidupan yang dijalani tak selamnya selalu bahagia, ada sedih ada bahagia, adaluka ada tawa ada sedih

Berbicara tentang kata mendung yang terkadang diartikan sebagai suasana hati. ada berbagai faktor menyebabkan mendung hati atau mendung hujan kesedihan diantaranya disebabkkan, karena suatu kekecewaan biasa kecewa karena permasalahan cinta.

Seperti kata cinta mendung mengatakan mendung belum tentu hujan dekat belum tentu jadian, Langit mendung merupakan cinta yang diam membisu. turunnya hujan adalah cinta yg tersampaikan, dan pelangi adalah arti dari suatu kebersamaan.

Mendung bukan berarti akan turun hujan, karena mendung adalah suatu pertanda alam, hujan dan kesedihan yang dialami Manusia, semua terjadi atas kuasa Sang Maha pencipta alam, maka serahkanlah semua kejadian kepada-Nya.

Puisi tentang mendung

Berkaitan dengan kata mendung, dibawah ini beberapa puisi tentang cuaca mendung hati, atau puisi bertema mendung, yang sering diartikan kesedihan. adapun masing masing judul puisinya antara lain.
  • Puisi mendung hitam
  • Puisi mendung
  • Puisi sekerlip pelita di dalam jiwa
  • Puisi kabar duka
  • Puisi jangan hanya mendung
  • Puisi redup
  • Puisi tak tahu entahlah
Apakah ditempat anda saat ini cuaca mendung menutupi langit, atau mungkin dalam keadaan suasana kelabu, yakinlah mendung tak selamanya kelabu, matahari hanya terlindung awan, dan ketika awan itu bergeser cerah kembali datang, begitu pun hal kesedihan ketika mendapat sesorang mengisi hati keceriaankan akan bersinar kembali,

 Dan mendung hati akan berlalu pergi menjadi hujan kebahagian, karena hujan adalah pengharapan, maka harapan kebahagaian menghujani hati dan jiwa, mereka yang selalu tabah serta sabar ketika mengalami gerimis hati.

Mungkin begitulah kira-kira tentang kata kata mendung, Yuk kita simak saja puisi bertema mendung atau puisi-puisi menceritakan tentang mendung dibawah ini, dimulai dari puisi mendung hitam, berikut ini puisinya.


MENDUNG HITAM
Remy Tongksst Sakti

Menitislah genangan air yang bertakung
Pada kedua kelopak pandangan
Empangnya telah pecah
Tidak termampu menampung
Himpunan duka lara dari tadahan jiwa yang meruntun
Dari ingatan setiap helaian lembaran kenangan
Tanpa sebarang upaya lagi
Untuk dibendung.....
Membanjiri seraut wajah

Susuk tubuh yang kelihatan tenang
Di sebaliknya adalah kemarau panjang
Yang masih belum sampai ke penghujungnya
Ditanyakan persoalan harapan
Bilakah mungkin mentari akan tersenyum lagi
Bilakah gerhana mahu berganjak pergi
Bilakah musim luruh akan berganti
Jawapan yang masih belum dimengertikan
Dan berterusan hujan lebat turun menyirami
Membasahi kolam hati

Jiwanya seakan padang pasir yang tandus
Kerana sarat dengan selautan rindu
Mendambakan syurga cinta
Yang berada di kayangan impian
Nun jauh di langit harapan
Termampukah lagi
Jiwa dan juga raga
Bertahan pada kunjungan angin ribut taufan
Yang telah meruntuhkan
Semangat juang yang selama ini dipertahankan.....

Mendung
dik

Sang surya mulai menutup wajahnya
Perlahan sisi sisi bumi mulai gelap
Begitu muramnya
Jalan ini pun terasa gelap

Mendung mendung pun berkumpul
Menambah kegelapan
Angin mendesir menerpa rambut
Dan menghempas dedaunan

Hanya cahaya cahaya kilat
Yang mampu menerangi
Perjalanan ini pun terasa lambat
Dalam gelap pun, aku masih bisa melihat pelangi

Aq yakin ini hanya ujian
Datang menghampiri
Dari tuhan
Agar aku bisa menguatkan hati

Aku yakin masih ada cahaya dalam kegelapan
Cahaya yang mampu menerangi jalan
Hanya iman dalam hati
Yang mampu menerangi jalan ini

SEKERLIP PELITA DI DALAM JIWA

Sayang... bulan tak nampak
Di sini hanya mendung awan
Yang berkaca di atas langit yang hitam

Sayang... begitu sepi petang ini
Tak ada suara-suara, tak ada cahaya
Dalam kamar gelap ku sendiri menekuri
Tentang kita , yang berjumpa lalu berpisah..

Sayang... hujan telah turun di sini
Membasuhi separuh petang yang mulai habis
Di tepian heningnya malam, aku meringis

Sayang... mab čk cinta itu begitu indah dan bersinar; seperti cahaya di langit siang
Namun mengapa, dalam terangnya, mataku seakan buta oleh silaunya
Yang membunuh, gelap penglihatan ini..

Dengar dunia.., aku masih memimpin harapan ini
Pada kubangan hari yang menjerembabkan tubuh jiwa ini
Pada getirnya kehidupan asmara

Dengar wahai alam semesta
Aku masih menyemangati hasrat ini yang bertumbuh di hati
Dengan keadaan lelah dan tertatih

Sayang... dengarkah, harapan yang ku lantunkan bersama deraian hujan
Aku masih menyimpan butiran-butiran rasa itu pada kehidupan
Asmara ku yang pernah terkoyak
Di ujung jalan buntu, nafasku tersedak
-harapan itu selalu ada, walau merasa begitu teraniaya-
'Seperti matahari yang tertutup gerhana, ia akan kembali dengan cahaya'

Hony.S
April, 14-2017

KABAR DUKA
Herlina Alle

Pernah, di pangkuan senja kutenun kerinduan
Indah bergambarkan kesetiaan
Berteman ronanya terlukis bayangan
Menyimpul senyum memabukkan

Sebelum kuterlena menerima
Samar terdengar kabar duka
Oleh burung pembawa berita
Kau pergi bersama separuh jiwa

Sesaat hati hancur berkeping
Sedu cakrawala berhias awan mendung
Menitiskan bulir-bulir kepedihan
Seolah tahu tentang kedukaan

Embun
Clp, 12 April 2017

Senja
Saeful Rokhmat Hidayat

Mengirimkan kepada lamun
Sendiri menyadari mendung yang ingin membawa rintik
Rintik itupun mulai terasa
Tak ada yang lebih indah dari sebuah lamun
Tapi bila sadar tanpa sadar mata ini berkaca-kaca
Lamunku terhentak dan hilang
Esok senja, bawalah lamunku tuk jadi nyata.

JANGAN HANYA MENDUNG
Hakimi Sarlan Rasyid

Aku melihat utuh rindumu yang datang bersama hujan
Dan agung cintamu yang tulus datang bersama badai
Menghapus semua ragu yang muncul dalam pertanyaan
Menghapus semua angkuh yang muncul dalam pernyataan

Seperti aku tak bisa menghitung titik air yang jatuh ke bumi
Seperti itulah banyaknya rindu dan cintamu untukku
Rahasia cintamu adalah dalamnya lautan yang tak terselami
Keagungan dan kesuciannya tersembunyi dalam putihnya salju

Beri aku api cintamu meski hanya sedikit
Biarkan aku kobarkan apinya hingga aku terbakar
Lalu aku bisa berkata alangkah bahagianya menjadi debu

Terbang abu dibawa cinta dan rindu jauh ke langit
Sujud aku dalam pengabdian yang tak bisa ditawar
Pada akhirnya tak ada sandaran selain kasih dan sayangmu

Kotabaru_Karawang_271220160832

REDUP
Aisyah Amsal

Roda dunia terus berputar
Jejak langkah tertatih-tatih
Hendak menggapai tangan tak sampai
Hendak teriak suara tak terdengar
Hendak bersandar dinding tak bertopang

Air begitu setia dengan pekatnya
Awan mendung begitu cinta dengan kelamnya
Guntur menggelegar begitu sayang dengan gemuruhnya

Sinar sesekali redup
Sanubari semakin kelam
Begitulah roda kehidupan
Bergulir tiada henti
Yang setia mengiring langkah
Mencari pijakan entah kemana.

TAK TAHU ENTAHLAH
Kalila Thea

Sabda syair menembus kelam sealam
Mendamba ria menemani lara
Sahaja membias senyum yang mendung

Kemana singgahnya...
Gejolak darah membara cemburu
Meragui percikan terjalnya asal
Fatamorgana bukan dimiliki

Siapa dia...
Bercermin tapi enggan bercerita
Tetap anggun dikeremangan
Bernyanyi kerikil tanpa irama
Tiada satu pun sebuah lentera
-----

Demikianlah puisi tentang mendung. Simak/baca juga puisi yang lain di blog ini, semoga puisi mendung diatas dapat menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

Sekedar informasi Puisi-puisi yang ada di blog Pdkb sebagian bersumber dari status/karya member grup pdkb di facebook

Jika ada pembaca yang ingin berpartipasi puisi silahkan di kirim KE SINI
Dan Untuk berlangganan update Dari blog Puisi dan kata bijak ketikkan email anda di form di bawah ini :
icon

disqus comments

 
INFO KLIK