Recent Posts
Loading...

Author :
Puisi singkat tentang cinta. Cinta merupakan perasaan emosi kasih sayang dari seseorang kepada sebuah objek yang dia sukai atau senangi, perasaan cinta adalah sebuah hal yang positif  di anugerahkan Tuhan kepada mahkluknya, dalam hal ini pengertian tentang cinta bermakna luas. bukan hanya perasan cinta yang anak manusia yang di anugerahkan Tuhan tetapi cinta yang bisa dialami semua makhlukNya.

Menurut para ahli pengertian tentang cinta adalah ketertarikan pribadi, dalam filosofi cinta adalah sifat yang baik mewarisi semua hal-hal kebaikan, perasaan cinta dari sesorang juga ditentukan perkembangan semasa.

Menurut pakar cinta cieee.... perasaan cinta itu adiktif (menimbulkan ketergantungan sulit di hentikan). kenapa bisa, ketika anda di putusin pacar pasti an akan sakit hati, namun dikala anda teratrik pada sesorang anda akan merasa jatuh cinta, yang itulah cinta cʌndu membuat sesorang ketagihan, Kata cinta memang luar biasa kan hehehe.. biasanya ada cinta ada rindu, karena cinta dan rindu memang memiliki keterkaitan.

Begitulah "kura-kura" tentang cinta, yang mampu membolak-balikkan hati dan pikiran seseorang. berkaitan dengan kata cinta. dibawah ini puisi- puisi singkat tentang cinta yang di tulis oleh Ady Surya Lesmana.

 puisi singkat tentang cinta

Bagaimana kata kata cinta dalam puisi singkat tentang cinta ini, yuk kita simak puisinya di mulai dari kosakata di lembut jemarimu, berikut ini puisinya.

****

Di lembut jemarimu wahai pujaan hati, aku ingin menjadi mawar yang kepala batu, yang gigih mengetuk pintu takdir untuk ikrar suci bahagiamu, mekar abadi agar mewangi di sepanjang bayang hingga beruban ~

Derai awan dedahkan kisah dari balik jendela, tentang rindu lautan dan angin ciptakan hening, akan hasrat gunung memeluk langit; kini menjelma kaca di sudut mataku, usai kumakamkan sekujur hasrat kerinduan di altar kepedihan ~

Embun mendekap daun sebelum jatuh ke tanah, lautan mengecup kening awan lalu tercurah ke bumi, pun langit menjerit menatap awan berderai, maka ucapkan selantang langit, atau peluk, bahkan jerit dalam puisi; hingga kau sadar, cinta itu tak diam ~

Seperti yang lalu, sunyi yang lekat mengawasi dalam gelap, segumpal kabut yang menyapa tanah basah, riap ilalang dan daun jatuh, tapi aku masih percaya, kau dan Tuhan akan kembali disini, sebelum rindu ini meluruh angin bersama mimpi indahmu ~

Sebuah senja berakhir, langit tegaskan hitam yang tak mampu kutempuh, dedaun gugur bersama angin yang kembali bersarang, ilalang lahun usaikan tarian; sebab rindu ini, yang dulu tumbuh menjadi malam, kini diabadikan kelam ~

Telah kubenamkan di ufuk timur, sebuah yang sakral bagi langit dan tak mampu dijangkau angin, agar tumbuh bersama pagi, hingga segenap terang tersipu riang, lalu berpiuh mesra menebar aroma cinta; rindu ini kasih, yang selalu terbit mengawali segala nan indah di seluruhku ~

Kini aku tegar pada semua yang lesap saat senja menyeruak, dan aku tak pernah ciut menatap semua terjungkal saat pekat menggerus; terima kasih sayang, kau ajari aku mencintai luka ~

Derai meranggas perih ini tak layak kugubah puisi, rindu telah kupasrahkan pada desir angin di ufuk terjauh, luka telah kusulam bersama silam, mustahil menyelinap menuju senja, hanya tersisa pagi yang menanti, sepasang matamu tenggelam di kecupanku ~

Sebelum kita saling menemukan, ijinkan aku mengenang suaramu yang tenggelam di jantungku yang padam, untuk melepas pahit luka dan mengecap manis jumpa, mencari makna rindu di setiap kehilangan, agar kecupan nanti tak lagi menetes sepi ~

Sesaat setelah kau beranjak pergi, langit tetiba mengusam tergerus kelekap angin, satu demi satu isi bumi menjelma nanar keruh di sudut mata, hanya tersisa suaramu, yang nyaris tenggelam di jantungku yang redup ~

Hidup ini tak lagi rumit, ranah kenang telah sesak oleh mimpi, tiada lagi tempat bagi hujan, kini hanya menjaga sepi yang kau titip di redup jantungku, hingga binar sepasang matamu menjemputnya ~

Lamunan terhenti pada segenap bising, derap jelata yang jengkali hari dengan mimpi, ricuh pekerja yang berebut harapan, dan pekik elang mencari makan; dunia yang kau samarkan bersama pahit luka, masih enggan kutempuh meski sekujur penantian tlah bersimbah peluh ~

Dekaplah dengan seutuh cinta yang pernah kau tahu, segenap debar pun getar di jantungku yang padam, agar kesedihan ini tak punya waktu, meski hanya sekedar menatap silam tenggelam bersama binar sepasang matamu ~

Ingatkah saat kita bertahan di tengah hujan, menatap bunga-bunga gugur dan cahaya kembali bersarang usai mengantar kupu terbang mengejar mimipi; karna cinta ini, tetes air yang kian deras dalam jiwaku, selalu bermuara pada binar yang memancar dari kedip sepasang matamu ~


Kasih, ijinkan aku mengulang perpisahan kita, yang derainya benamkan aku dalam kosong, hingga segala yang hidup di tubuhku membisu dalam gigil sepi; agar aku lebih siap mencintai luka, dan kesedihan tak sempat merenggut semua mimpiku ~

jika yang beranjak pergi itu cinta, mungkin yang bertandang nanti surga dalam hidup dan matiku ~

Kembalilah, kau yang bertamu tapi acapkali meninggalku sendirian, hati ini bukanlah persinggahan belaka, ialah surga bagi sejatinya kasih di sepanjang bayang, hingga beruban ~

Berlarilah secepat petaka, hingga sejauh angin bersembunyi, menyepilah disana bersama guguran rimba yang tiada berada; hingga kelak kau tahu, menjauh dariku hanya akan membuatmu dekat dengan sepi ~

Hilangmu tak terganti, meski berkali cahaya jatuh di pelukan, nyatanya hanya derai yang kini kau jadikan telaga, mungkin kau bawa serta semua yang hidup di tubuhku, hingga pecahan hati ini membisu di jiwaku yang padam, atau kau memang sejatinya nafas di seluruhku ~

Sebelum kau menjawab tanya, atau berpikir tuk beranjak pergi, heninglah sejenak, agar segala yang laut di benak bahagiamu menampakkan wujudnya, seraut tulus yang hanya bernafas untuk memujamu, di sepanjang bayang hingga tatap mata menyentuh tanah; itu aku ~

Andai sejak awal kutemu isyarat langit di bukit terbuka itu, pasti sudah kupenuhi semua inginmu, tak perlu ada derai yang harus memahami, tak ada pecahan hati yang tak sudah mengikis sepi, pun mimpi ini tiada tenggelam di jiwaku yang padam ~

Tak perlu cemas bertandang ke tempatku, sebagian silam telah kusulam bersama luka, rindu telah kubiar menyendiri di sudut jiwa, hanya tersisa sunyi dan rerimbun mimpi, yang menanti sentuhan lembut jemari cintamu ~

Apa yang salah dengan rindu, hidup ini seakan tak mengenali wujudnya, hanya sebaris sunyi yang tak acuh, rimbun mimpi yang menyepi, dan seraut cemas yang tak henti menafsir sepi pada sepasang matamu, begitu jauh, hingga ke kedalaman hatimu ~

Duka seakan bertaut di setiap kenang, rindu ini tak memberi pilihan, pun cinta terlalu percaya pada silam yang sempat kau buang, mungkin karena semua yang sempat hidup di keningku hanya kamu, atau segala yang indah di hidupku selalu bernafas denganmu ~

Sentuhlah aku jika kau ragu, dan kau akan rasakan getarnya menjalar hingga ke sudut nadi, menjadi debar yang tak sudah di benak bahagiamu, hingga berkali sepi mati di tubuh indahmu ~

Pagi yang asing, hanya riap ilalang menemani daun jatuh, segumpal kabut yang tak beranjak, dan seraut cemas yang mengawasi kaca jendela; mungkin malam menyisakan sebaris sunyi, atau langit dini terlalu sayup bagi derai yang tak usai memahami bising kenang ~

Pagi selalu datang dengan beribu misteri, langit hanya menyaksikan tanpa memberi isyarat, mungkin ia sibuk dengan cahaya; seperti sisa mimpi yang selalu disertai tanya, seperti segala yang hidup di tubuhmu, misteri indah dalam hidupku ~

Pagi yang kau kenali sebagai hingar berhias gelak penuh warna, hanyalah riap sesaat di bentang sunyi, yang derainya meranggas perih menohok ke ulu hati, andai cintamu tak lekas menyapa ~

Pulang dan bersandarlah jika kau rasa lelah, cinta selalu memiliki rumah tuk berpulang, pun dengan semua duka basah itu, yang selalu kembali hangatkan sudut mataku, sebelum lahirkan peluk yang membasuh luka di seluruhmu ~

Sebab langit kerap hilang cahaya, embun tak pernah cemas berpisah dengan dedaun, pun lautan tiada risau bertandang hingga daratan menjulang; seperti cinta kita, yang percaya pada perjumpaan, meski jarak kian membentang ~

Masih di kesayupan langit dini, bersama serpihan silam dan duka asing yang nanar di sudut mata, mungkin karna langit hilang cahaya, wajahmu hanya membayang hitam, atau rindu semakin menakutkan untuk kukenali ~
****

Demikianlah puisi singkat tentang cinta. Simak/baca juga puisi berikutnyadi blog ini, semoga tentang cinta diatas dapat menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

disqus comments