Recent Posts
Loading...

Author :
Puisi pendek tentang cinta kata kata romantis menyentuh hati. Berbicara tentang puisi cinta, ada berbagai macam puisi cinta, seperti puisi cinta kali ini, puisi pendek cinta, yang berarti membahas tentang cerita cinta dalam kata kata indah tentang cinta atau puisi cinta romantis yang menyentuh hati para pembaca dalam bentuk kata kata pendek atau puisi pendek tentang cinta. Membahas masalah tentang kata cinta maka yang pertama tersebit adalah asmara serta kasih sayang, namun sesungguhnya cinta itu luas pengertiannya, buka hanya soal asmara. Seperti di ketahui pengertian cinta secara umum adalah suka sekali atau sayang benar terhadap sesuatu.

Tetapi ketika cinta merujuk ke asmara, cinta adalah kekuatan aktif emosi kasih sayang perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya dikarenakan adanya ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki oleh lawan jenisnya. Menurut Khalil Gibran, Cinta adalah satu- satunya kebebasan di dunia karena ia begitu tinggi mengangkat jiwa, dimana hukum- hukum kemanusiaan dan kenyataan alam tidak mampu menemukan jejaknya.

Kata cinta tak ada habisnya jika di bahas, seperti halnya dengan puisi pendek tentang cinta kali ini, karena sesungguh yang mengerti arti dari cinta adalah orang menjalani cinta dan orang yang jatuh cinta. Terkadang orang- orang hanya meraba menafsirkan cinta tersebut. cinta di dunia pun hanya sementara, hanya cinta kepada Allah, itulah cinta yang abadi.

Puisi pendek tentang cinta


Puisi pendek tentang cinta dan kata kata romantis menyentuh hati


Kata romantis yang menyentuh hati biasa adalah kata kata tentang, cinta sebagaimana diketahui cinta yang mesra adalah ketika adanya keromantisan dari dua orang yang saling mencintai, sehingga kata kat yang enyentuh hati pun sering tercipta, dari percakapan romantis dari dua orang dalam menjalani cinta.

Begitulah kira- kira sekilas tentang kata cinta. dibawah ini beberapa puisi pendek tentang cinta, atau biasa di sebut puisi telʌnjʌng. Puisi -puisi ini di tulis oleh Ady Surya Lesmana,yuk kita simak saja rangkaian puisinya berikut ini.

*****

Mengepak liar sekedar bersandar, bentangnya dekap meraih kosong yang melebam, sesaat berpiuh lalu menyimak sunyi; cinta tak bersambut, namun rindu kerap lancang mengiang, meski harus bersimpuh di musim tak berwarna ~

Ketika malam takluk di kesayupan langit dini, kutegaskan kembali biru di hatiku; silam yang masih lebamkah, atau cintamu yang bertubi menabuh setiap sudut sepiku, uapkan asin kenang yang menghitam ~

Tak cukup sepanjang bayang, takkan tenggelam di segenap musim bertepi, hingga berkali sepi mati disini; cinta ini, yang hanya untukmu, bagai sumur tanpa dasar yang mengalir di seluruhku, sambangi segenap senja ~

Ziarah panjang penantian ini ajarkan aku berdiri dalam gelap, mengeja hitam dalam tiap lembar sepi lalu melukis sebuah malam, tempat kumakamkan segala tanya dan sesal; sayang, cinta ini pelita langit, yang tak mampu dipadamkan kelam ~

Gerimis uapkan aroma tanah yang sarat kenangan, dedaun berpiuh di pematang angin dendangkan lagu petang untuk dedahan, pun bagi akar yang menekur hangat di pelukan bumi; cinta kita kasih, akar yang setia pada tanahnya ~

Sunyi, hanya daun jatuh, tapi aku yakin, kau dan Tuhan pernah disini, jauh sebelum rindu ini tumbuh menjadi senja di seluruhmu ~

Sunyi yang menyengat, hanya segumpal kabut dan daun jatuh di atas tanah basah, tapi aku percaya, kau dan Tuhan pernah berada disini, jauh sebelum rindu ini tumbuh menjadi senja, yang derainya merampas kesah ~

Sunyi, hanya daun jatuh, tapi aku yakin, kau dan Tuhan pernah disini, jauh sebelum rindu ini tumbuh menjadi senja di seluruhku, hingga berkali sepi mati disini ~

Hening ini begitu nyata; saat pekatnya lahun menggerus angan, ketika lebamnya mengoyak kenang di sepanjang bayangku bersamamu ~

Hening malam ini ingatkan aku pada binar sepasang mata, ketika beningnya lahun menyeka silam yang nanar di sudut mata, kini ia tumbuh menjadi debar yang tak sudah di jantungku yang redup, getarnya melarung hingga ke kedalaman hatimu ~

Heninglah dan genggam erat lengan anganmu itu, tak perlu kau berbisik, biarkan aku mencari sarangmu yang masih angin, di setiap serpihan mimpi yang sulit kukenali lagi, sebab terlalu lama kutinggalkan ~

Sepi ini; angin dan dedaun tak bersentuh, ilalang tlah usaikan tariannya, dan kau tiada menyapa di seluruhku ~

Satu hari yang berakhir, sebuah rapuh yang hancur berkeping, lalu usai; kenangan terakhir ini, ketika lambaian tak kembali, dan senyum terlukis samar di langit senja, menjadi ziarah penantian di sepanjang bayang ~

Di balik senja, kubiarkan diam mengetuk kesendirian, hingga kelak pertemuan meramu indah dalam sunyi, dan senandung rindu membiaskan jingganya mengitari langit ~

Pada senja yang segera pejam, ada rindu yang sunyi menatap angan, angin dan daun enggan bersentuh, pun ilalang usaikan tarian; berkali sepi pejamkan aku, lupakan asin kenang di sepanjang bayang, yang dekam mengusam di ranah mimpi ~

Andai kau bergemuruh, akulah kerikil bertaburan itu, di seberang dada nan sesak tanpa jembatan, pada dasar rindu yg melepuh tanpa ingatan, berkali sepi di seluruhmu ~

Di beranda senja, derai merampas segala kesah yang kian memasi, angin dan daun tiada bersentuh, ilalang usaikan tarian seraya dedahkan doa; hatimu tak lagi rumah, untuk semua rinduku yang basah ~

Secarik awan sambangi hujan lampau, luluhnya menua pada daun jatuh, derainya bersimpuh di tanah; kita adalah penantian, ketika hingar pagi dan berpulang di senja sepi, kembali menimang hujan ~

Tergerus kenang menganak waktu, tercabik silam nan lebam; biru di hati ini, di sepanjang bayang pada segenap musim, tenggelam dalam sepimu di seluruhku ~

Bulir embun lahun bergulir jatuh, mengisak lirih bersama rekah mawar hitam di atas tanah basah, menimang cahaya dalam letih; kelopaknya layu berguguran, ulah serbuk sari laki-laki kota ~

Sebuah senja seakan terhenti, ilalang merunduk dalam ziarah panjang penantian, angin pun dedaun hanya dedahkan sebuah yang silam; sebab kau menjauhi bumiku, hingga segenap cahaya membuta tanpa jejak di seluruhku ~

Cahaya terbelalak di bangku hari kian tegaskan segenap remang, sejuta kenang membising dalam labirin hitam, gelak di seluruhku berderai terperangkap tanya; akulah luluh rindu, meski tlah kurelakan tawa ini melangit tanpamu ~

Seraut muram masih mengawasi malam, lengannya tak henti bersulang dengan kesendirian, dalam gelap ia berujar sedu bersama takdir; rindu ini kasih, yang seringkali menjelma hitam di seluruhku ~

Kosong, hanya lampu kota yang berbaris murung, senyum puas jelata usai setubuhi mimpi, dan pecandu sepi yang memeluk lututnya sendiri; itu aku, sejak pergimu melukis hitam, rinduku tersekat-sekat ~

Lengang ini asing, Hanya ruang depan yang iba menatap pelataran tergerus gerimis, kursi kosong berhadapan, dan secawan tumpah dari sulang terakhir; seperti hatimu, yang kerapkali menggerus dukaku hingga basah, tak henti sesatkan sendiriku ~

Telah kubenamkan bersama ombak, sesuatu yang kucuri dari geram lautan, hingga aku menguap tinggalkan asin kenang, lupakan bentang nan kemilau; untuk menyentuhmu, langit segenap hasratku ~

Dalam gerimis sebuah cahaya jatuh diatas bebatu, kini ia tumbuh dan tak henti menari di kening hari, namanya terukir di dada kerinduan tebarkan hangat pada seluruhku, hingga berkali sepi mati disini, derai kesah tersapu membusuk bersama segumpal kabut ~

Gerimis ini melukis luka begitu dalam, aku ulat tersesat di padang bebatu, menahan dingin yang meranggas perih, terkulai tanpa naungan di sepanjang bayang; sebab hatimu kasih, yang tak lagi rumah, meski tlah kuhadang segala musim di seluruhmu ~

Begitu jauh setapak yang harus kutempuh, lalui rerimbun mimpi, sebrangi belukar sepi, hingga kumampu lewati batas ragu, tapi aku yakin, kau dan takdir masih dedahkan doa disana, yang selalu diaminkan rinduku ~

Seraut kenang hampiri aku di kesayupan langit dini, sebuah yang silam, tentang kepergian yang mencuri waktu, berakhir dengan derai yang merampas sesal; sesuatu yang tak mampu angin lakukan, tepikan rinduku menuju duniamu yang baru ~

Pada petang yang kian meruncing, serupa kabut menyeruak beringas dari liang sunyi, tegaskan hitamnya untuk nodai angan; rindu ini, seringkali menjelma zirah yang buatku terjungkal, hingga mengecup nista yang ditawarkan malam ~

Para pemuja harta berdiskusi tentang padi, politisi tak henti berkelakar di layar kaca, jelata tlah enggan berjibaku dengan peluh, sibukkan diri setubuhi mimpi; "sinting, dunia berpusar menuju petaka", ucapnya pada surat kabar ~

Seraut kenang mengerami kepala, berbulir janji menetes di sudut mata yang tak henti mengawasi malam, saat pekatnya lahun memancar dari hening jemari kabut; rindu yang tersesat, sebab kelabu di hatimu dedahkan sunyi yang sukar kumengerti ~

Ketika lampu mulai dinyalakan, seraut angan gigih memutar otak, jemarinya tak henti mengetuk pintu takdir, asanya memucat pada jendela mimpi yang menganga; rindu ini, yang tumbuh di pematang sunyimu, pertemuan hanya bunga mekar sebelum terjaga ~
*****

Demikianlah puisi pendek tentang cinta kata kata romantis menyentuh hati. Simak/baca juga puisi cinta romantis yang lain di blog ini, semoga puisi pendek cinta di atas dapat menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

disqus comments