Breaking News
Loading...

Puisi pendek dari kata pendek sudah dapat di tebak jika puisinya singkat, jadi puisi pendek adalah puisi yang singkat. Puisi pendek kebanyakan puisinya tak berjudul, biasanya penulis menuliskan sesuai dengan inpirasi singkat yang di dapatkan. puisi pendek dapat di tulis dengan berbagai tema, seperti puisi puisi yang lain pada umumnya.

Jika puisi panjang yang berbait biasanya membahas panjang lebar maksud dari si penulis, namun dengan puisi pendek pesan dalam puisi yang sampaikan sesuai dengan namanya puisi pendek, yah pesan dalam puisinya yang singkat dan padat.

Nah di bawah ini puisi pendek tema cinta. yang ditulis oleh Ady Surya Lesmana, bagaiman puisinya, yuk kita simak saja dibawah ini.

puisi pendek tema cinta


Aku telah jatuh cinta, bukan di pandang pertama, pun di buruk harimu; kutemui serupa bahagia, nyata seperti yang dilupakan malam, terang bagai kelahiran fajar, atau kicau burung yang menyeruak di langit pagi ~

Kubuka pintu rasa malu, amarah dan pengampunan yang terbungkus dalam kutukan sinis, coba menyusuri dunia baru yang belum tampak, hanya mimpi menetes sepi di ruang depan yang merindu, mereka tak bicara hanya bernafas, tak mungkin dusta ~

Aku, kamu dan senja yang telah kelabu, pun lahun menghitam; saat malam hembuskan sepi, dedahkan rindu yang gigih memikul angan, hingga mimpi-mimpi terbujur kaku di ranah kenang nan tandus ~

Kubiar rasa ini bersarang dalam gerimis, menetes sepi diantara rimbun mimpi, agar aku terbiasa berkubang dalam kesedihan; hingga hidup ini melupa cara berduka, atau kelak kau faham cara mencinta ~

Aku telah menjadi mata pena yang tenang, berpiuh di pematang lengang, atau genderang langit yang gelegar di setiap sudut sepi; kasih, andai rinduku begitu angin kau dengar, cinta ini ilalang yang menari bersama angin, setia pada embunnya ~

Kubiar genang ini membuncah, sesuatu yang nanar di pelupuk kenang, agar bulirnya tak lagi menetes sepi, menjadi bah yang melaut lepas, badaikan mimpiku di seluruhmu; cinta ini, yang hanya untukmu, telah enggan bermusim di keheningan ~

Aku tahu, berkali derai merampas keluh, berkali kesah memaksa perih, pun luka kerap menggerus angan hingga benam di pematang sunyi, namun jangan kau biar sepi mengisi pecahan hati, nanti aku mati ~

Kubiarkan kau dan pagi menjadi bait yang hilang dalam sajakku, agar cinta ini menggurat tegas di kedalaman arti, dan kita tumbuh menjadi embun di kedalaman makna ~

Aku bukan kota tua, yang dulu pejal akan puja-puji, kini menjadi bait buku usang yang buta-tuli; aku tak ingin jadi sejarah, sedang kau baqa mengisi tiap lembar benak dan otakku sedari dulu, hingga kelak menjauhi bumimu ~

Kuberi nama kelam, ketika petang terlupa dan malam bertekuk lutut, lentera langit merunduk di balik awan berderai, sambangi seraut silam yang berkelebat terangi ingatan, sedang aku masih bersulang dengan kesendirian di sudut sepi ~

Akulah sejatinya mimpi, yang bisikkan angan di pematang angin, menyibak setapak di sepanjang bayang lalu langitkan obor kenangan hingga mengecup kening awan; sia-sia, belulang rindu tlah tumbuh menjadi senja, heningmu merenggut jejaknya di seluruhku ~

Puan, tundukkan kepalamu sesaat, bagi sebuah mimpi yang telah diasingkan oleh langit di ranah sunyi bersama guguran hutan, dedahkan doa agar tak menetes sepi di pecahan hatimu; sebab kau telah dimakamkan di hatiku ~

Aku tahu, berkali sunyi menohok ke ulu hati, saat sebagian sepi mengisi pecahan hati, tapi jangan kau biar heningmu merampas sebagian mimpiku, bisa-bisa sebagian hatiku terbawa mati ~

Puan, berkacalah pada langit terbuka, kelekap angin telah bersekutu dengan awan hitam, maka sambutlah peluk ini, agar segala yang redup di tubuhmu tak padam, oleh gigil sepi yang tak sudah mengisi pecahan hati, atau ulah nanar silam yang menetes duka di sudut mata; seperti aku ~

Aku malam berkawan badai, lahir disela derai awan dan langit ricuh, bernafas dari jerit sunyi yang mengiba ampun, berkali sepi meregang nyawa disini; percuma kau uji aku dengan hening hitammu, rindu ini tetap gelegar di setiap sayup cintamu ~

Kuberi nama rindu; ketika malam tak melihat, dan aku mengawasi dalam gelap, mencoba menerka setiap kenang yang menghitam, di sepanjang bayang ~

Aku tak pernah benar-benar menyapa sepi, malam tak pernah bertanya tentang mimpi lalu, yang diberi nama usang oleh pagi, pun masih kuteguk birʌhinya hingga sulang terakhir; hidupku tak lagi mengenali wujudnya, atau kau benar tak pernah ada ~

Kau biru yang mendustai langit, aku hitam yang mengingkari malam, kita sepasang yang dilupakan takdir diabaikan mimpi; seperti rindu ombak mencipta hening, kasih kita sebuah tiada ~

Aku pernah melukis malam, menyibak belukar hitamnya hingga mendaki birʌhinya, pernah juga kucoba menari berdendang di panggung hari, bersama ...entahlah aku lupa; drama tak berguna, melupakanmu hanya kutemu saat aku menulis derita ~

Kau berjalan tak ingat waktu, sedang degup di tubuhku semakin padam dalam keheningan, terpejam bersama guguran rimba yang kau lewati; mungkin karna lelah, atau tak ingin menatapmu tenggelam bersama senja ~

Aku tahu, berkali mimpi menetes sepi, meluruh debu lalu dekam mengusam di ranah kenang yang redup, dan rindu hanya berujar sedu pada takdir di ujung gelap, tapi aku masih tertinggal disana, menanti sepasang matamu bersinar saat kuterjaga ~

Kau benar sayang, derai dan derita tak hanya bermusim di ranah kerinduan, tak jarang juga kutemu duka basah yang asing di sudut mata, tapi aku ingat, semua dapat kujengkali dengan sekedar senyum mencibir, ketika kau dan Tuhan berada disini ~

Aku mewarnai langit, atau hanyut dihembus angin menuju ombak sayupmu; agar kau tahu, cinta ini tak sekedar tetes sepi, deburnya mewarnai luluh jiwaku pada heningmu ~

Mungkin kesedihan itu upaya rindu mengukur jarak antara kita yang terbelenggu, agar kita menyeka silam yang nanar di sudut mata, hingga kelak mampu lepas bebaskan harapan seperti lautan ~

Aku ulat tersesat dalam gerimis di bebatu, menggigil dalam kelekap angin bersama nanar silam yang tak lagi derai, mungkin karena terbiasa dengan sepi, atau sudah lupa cara bersedih; sebab hatimu tak lagi rumah, bagi segenap duka yang menghujani jiwaku ~

Mungkin rindu terlahir memang untuk bersanding dengan waktu, yang menyala saat jarak tumbuh menjadi detak yang tak sudah, lalu redup usai melumat sekujur sepi hanya dalam detik ~

Aku tak lagi berdebat dengan langit pun lautan, pelukan telah ditetapkan angin nun jauh disana, suatu nanti, saat tatapan ini menyentuh tanah, maka kudedahkan doa di setiap lembar sepi, agar bahagia bersanding dengan waktu ~

Mungkin rindu telah menyunting lautan ricuh, yang lalu hanya gerimis menetes sepi bersama debur ombak terjauh, kini derasnya buatku tenggelam dalam bising kenang yang tak sudah ~

Aku sadar, berkali kesempatan telah terabaikan, hingga aku salah merangkai mimpi, bahkan pernah kurampas luka hingga lebam; mungkin aku tak pernah belajar pada cinta yang kau hembus di jantungku, atau merasa tak pantas bernafas bersama indahmu ~

Mungkin menjaga mata dan hati ini tak penting bagimu, sebab kau tahu mereka hanya bernafas tak mungkin berdusta, dan semua yang hidup di tubuhku kau kenali sebagai janji, yang akan menerangi jiwamu ~

Aku hanya ingin mengantarmu, menuju rimbun mimpi di sebalik bukit, yang kerap dikisahkan oleh angin; agar kau mengenal segala yang laut di hatiku, rumah tempatmu berpulang, seusai lelah menimang hujan di ladang duka ~
*****

Demikianlah puisi pendek tema cinta. Simak/baca juga puisi yang lain di blog ini, semoga tentang cinta di tas dapat menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

Sekedar informasi Puisi-puisi yang ada di blog Pdkb sebagian bersumber dari status/karya member grup pdkb di facebook

Jika ada pembaca yang ingin berpartipasi puisi silahkan di kirim KE SINI
Dan Untuk berlangganan update Dari blog Puisi dan kata bijak ketikkan email anda di form di bawah ini :
icon

disqus comments

 
INFO KLIK