Recent Posts
Loading...

Author :
Puisi malam ketika berkata.  Seperti yang kita ketahui malam adalah kesempatan indah untuk beristrahat, untuk berdoa setelah beraktivitis dari rutinitas seharian. malam juga sering kali digunakan untuk mengusir jenuh bagi anak muda, namun bagi yang telah berkeluarga malam adalah kesempatan yang baik untuk berkumpul bersama.

Namun tak jarang juga malam hari dipergunakan bercengkrama dengan kekasih, apalagi malam minggu, malam yang biasa di tunggu-tunggu bagi pasangan kekasih, biasanya mereka mengatakan malam yang panjang, namun bagi mereka yang esoknya bekerja biasanya mengatakan malam hari yang pendek.

Itulah kenyataan tentang malam tergantung dari seseorang bagaimana mereka mengartikan malam, namun bagi mereka yang hoby menulis kata malam dapat di jadikan judul untuk tulisannya apa lagi tentang puis, puisi malam sudah sangat lumbrah kita jumpai.

Dan malam ketika berkata seperti judul di atas,  hanya mewakili judul puisi yang lain pada  kesempatan ini kita update, serta salah satu judul tulisan dari sekian banyak artikel berjudul malam. terkadang juga ada yang berjudul malam yang hitam, biasa diartikan orang-orang sebagai bukan malam keberutungan, kadang juga diartikan sebagai malam tragedi.

Di bawah ini ada empat puisi, Salah satunya puisi malam ketika berkata, adapaun masing masing judul pusinya antara lain.
  • Puisi mengecup hujan
  • Puisi bulan tidak lagi bernama
  • puisi malam ketika berkata
  • puisi disini hatiku disana hatimu.
Keempat puisin ini di tulis oleh seorang berna Hony. S. Bagaiman cerita dan makna dari puisinya yuk kita simak saja berikut ini.

MENGECUP HUJAN

Seperti kata- kata ini yang berhamburan
Aku serpihkan kepada tinta dari hati
Di wujudkan untuk kenyataan
Bahwa rintik hujan masih kukecup dari airmataku

Ciumlah wujud nyata ini
Dari rintihan sepi malam yang hitam
Aku sendiri menunggumu
Menanti hujan yang sama untuk kembali bertamu
Datanglah kembali rinai bahagia

Seperti ketika itu
Waktu hujan di tepian petang membasahi pundakku dan pundakmu
Saling bersisian di sebuah atap payung yang di bagi bersama
Engkau meletakan lenganmu di antara bahuku
Sambil menepis serpihan hujan pada tubuhku

Begitu indah kecupan hujan waktu itu
Aku ingin kembali memutar haluan poros bumi
Tetapi mungkinkah itu
Tentu hanya ada di dalam khayalanku

Hujan yang baru sudah mengemasku
Kini hanya aku sendiri yang kebasahan oleh rintik itu
Bukan pundakku bukan tubuhku
Hanya pipiku dan daguku
Bukan hujan dari langit
Tetapi dari mata ini
Tak ada lagi payung untuk menahannya

Hony.S
Februari, 25-2017

BULAN TIDAK LAGI BERNAMA

Terlihat bulan yang basah mengambang
Di antara kepulan- kepulan tipis asap putih
Membiaskan sinar kabut yang menyerpih

Serigala malam melolong
Di pucuk angin yang datang menebar
Aroma magis kehidupan alam
Yang pucat melapisi kelabunya langit

Warna kehidupan yang samar
Dalam temaramnya bintang- bintang yang jatuh
Entah di angkasa yang mana
Sinarnya begitu jauh

Malam.. mengendus harumnya pelangi kabut
Yang menembus dinding- dinding pori-pori
Penciuman si kulit pasi
Mengigil..

Basah bulan kedua telah berakhir
Namun malam ketiga dari bulan yang datang tetap mengukir
Kehampaan, kekosongan, pada warna patah rinai hujan yang membasuhi
Kebekuan dalam kabut hari

Hony.S
Maret, 05-2017

MALAM KETIKA BERKATA

Malam .. begitu tenang
Menghadirkan seribu ilusi yang membayang
Di benak nan melayang
Sehingga mewarnakan kunang- kunang
Kerlap- kerlip cahayanya menembus dinding malam yang hitam

Di sini suarmu sayang..
Jangan berbalik arah
Engkau pasti menemukan
Secercah sinar harapan
Yang menuntun langkahmu ke arah tujuan
Sinar remang itu akan menjadi terang

Dalam ketenangan
Hidup tidak membosankan
Apapun yang di rasakan menjadi nyaman

Malam.. begitu lengang
Aku di sini memeluk bayang
Dari keheningan yang mengambang
Membuatku berpikir begitu tenang
-kebahagiaan bukan sekedar mempunyai keberadaan, tetapi memiliki keadaan-

Hony.S
21-02-2017

DI SINI HATIKU- DI SANA HATIMU

dalam pembaringan yg hangat
aku memimpikanmu jatuh di dalam hatiku
sehingga berkeringat sudah bantal yg di basahi
sudah tetesan itu mirip air hujan yg turun
mengalir kebahagiaan selayak sungai- sungai

namun,
sebagai akibatnya malam itu mulai terkulai
serta mata ini terjaga
kokokan pagi sudah terdengar
mengenyahkan semua mimpi itu
pada pintu matahari yang mulai terbuka
aku terperanjat, memohon tak beranjak
dari selimut hangatku
aku ingin tetap beserta mimpiku
di sini -

tetapi,
semua artinya tidak mungkin
malam telah berlalu
meninggalkan setumpuk jejak bisu
yang tak dapat kuajak bercakap
Hanya hatiku yang mengatakan
ini semua hanya mimpi yg tidak nyata-
serta selimut ini wajib segera di enyahkan
dari tubuh basahku yg berkeringat
"dan, bangkitlah hatiku"
di sini dan bukan di sana

Hony.S
Februari, 19-2017
------------

Demikianlah puisi malam ketika berkata. Simak/baca juga puisi yang lain dari Hony di blog ini, semoga puisinya diatas dapat menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

disqus comments