Breaking News
Loading...

Cerpen Cinta Alam Maya | Kenangan itu ...
Masih melekat dalam memoriku.

***

"Hai!"

"Oh ... hai juga!"

"Engkau anak baru disini ya? Cantik aku senang sama kamu!"

Memerah rasanya wajah ini, hanya senyum simpul menahan malu karena pujiannya.
Itulah awal perkenalan kami. Adi Saputra, nama itu sampai sekarang masih kuingat. Wajahnya pucat, tapi cool tanpa senyuman. Seakan-akan dia sedang sakit. Namun aku tak pernah menanyakannya.

***

"Wi, hendak kemana? Jangan main jauh-jauh, Dewi belum tahu daerah sini," kata Nenek mengingatkan.

"Iya Mbah, tenang aja ... Dewi kan bukan lagi anak yang kecil," jawabanku sambil pergi, setengah berlari bergegas menuju ke sungai.

Sejak pertemuan dengan Adi, kami jadi sering ketemuan. Di bawah pohon akasia, pohon tua di tepi sungai Cirarap, kampung Curug.
Cukup lama aku berada di bawah pohon tua ini. Sambil memandang air sungai yang mengeruh, karena debit airnya mulai naik, hujan semalam menambah deras air sungai.
Tatapan mata ini berhenti, pada dahan pohon akasia, dengan pandangan tertegun terus kutatap dahan itu. Lama, akhirnya dengan rasa penasaran sambil berdiri dan menatap dari bawah. Terlihat bagai seutas tali tambang, tapi sudah mulai kotor warnanya. Sambil berpikir, itu tambang bekas apa, seperti bekas ...
Tiba-tiba ...

"Dor! Kamu sudah lama di sini, Wi?"

"Adi! Ah ... kamu mengagetkan saja! Di itu tambang bekas apa ya?"

Dan ... Adi menarik tangan ini mengajaknya berpindah tempat. Tanpa menghiraukan pertanyaan tadi, lalu kami larut dalam canda.

***

Seminggu sudah liburan di kampung, serasa tak ingin kembali ke rumah. Jika saja tak ada telepon dari Mama yang mengingatkan bahwa liburan sudah berakhir. Besok adalah hari terakhir di sini, karena pagi pagi harus segera kembali ke Jakarta.

"Wi, sarapan dulu, Bibik sudah buatkan nasi goreng kunyit kesukaan Dewi!"

"Ya Bi, sebentar mau keluar dulu, nanti aku makan," bergegas kaki melangkah keluar.

Sementara suara Bibik, adik Mama terdengar berteriak memanggil dari dalam rumah.
Di tepi sungai, kembali mata ini memandang seutas tambang yang masih terikat di dahan pohon akasia.

"Neng! Ngapain pagi-pagi dah di pinggir sungai? hayu atuh balik, besi kesambet engke!"

"Lagi nunggu temen, Mang! Iya bentar lagi balik nih," jawabku pada Mamang tetangga Nenek.

"Hai Sayang!"

"Adi!" Kataku setengah berteriak, karena kaget dan senang dipanggil sayang. Cieee ... cciiieee ... uuppsstt udah ah jangan ngeledekin terus, lanjut ya ... :)

"Aku mau balik ke Jakarta besok, semoga kamu mau menunggu dengan setia ya Di? Jika kangen ma aku, datanglah ke sungai ini, tempat biasa kita bersama selama ini. Di bawah pohon ini kita saling bercanda dan kamu begitu memanjakan aku," ucapanku, mengawali pembicaraan.

"Ya Sayang, aku akan setia menunggumu. Kapan kamu kembali ke sini? Bagaimana jika aku kangen? atau kalau kamu yang kangen?" tanya Adi bertubi-tubi.

"Tenang aja, kita selfie dulu yuk? jadi kalo aku kangen kan bisa pandangi wajah kamu di hp,"

"Nah lihatlah! sudah bereskan? Kenapa sih kamu ngga mau senyum di f 0 t o?"

"Nih agar kamu inget terus sama aku, kita tertawa bersama untuk yang terakhir ya Sayang," kata Adi yang tiba-tiba memeluk sambil mengelitiki pinggangku.

Kami tertawa bersama, larut dalam suasana hati yang sedang berbunga dipenuhi asmara.

"Neng, kunaon bengong sorangan wae di ditu, hayuk balik besi kesambet engke!"

"Oh ... iya Bik, ini mau balik," kataku sedikit kaget dengan teriakan Bibik itu.

***

Paginya dengan sedikit gelisah, mata ini memandang ke halaman rumah Nenek.

"Sudah sarapan belum Wi?"

"Sudah Mbah, ya sudah sekarang Dewi pamit balik dulu ya Mbah,"

"Iya, Titip salam Mama dan Bapak di rumah, dari Mbah Putri dan Mbah Laki serta Bibikmu ya Wi, hati-hati di jalan," kata Nenek sembari memeluk dan memberi uang untuk ongkos.

***

Di dalam bis, pikiranku melayang, mengingat semua kejadian bersama Adi.
Ya Adi ... tapi mengapa dia tak datang mengantarkan pulang hingga naik bis? Apakah Adi sakit? Ah ... semoga saja tidak, mungkin dia lupa, hibur diri ini dalam hati.

***

Seminggu sudah sejak pertemuan itu, kembali berkutat dengan aktifitas kampus yang lumayan padat. Sejenak melupakan sosok Adi.
Akhirnya dengan perasaan lega, liburan weekend tiba juga, kamis libur tanggal merah, jumat tak ada jam kuliah, sabtu dan ahad memang libur. Dari hari rabu, aku sudah siap-siap. Pulang kuliah langsung berangkat ke kampung, agar tidak kemalaman di jalan.

***

Kamis pagi, seperti biasa sudah bersiap untuk menemui Adi. Karena aku berharap dia menunggu di pinggir sungai.

"Mau kemana sudah rapi pagi-pagi, Wi?"

"Mau ketemu sama temen, Mbah," jawabku sambil pamitan.
Tapi, Nenek menggamit lengan ini.

"Duduk di samping Mbah, sini Wi," pinta Nenek.

"Iya, Mbah," sambil duduk di samping Nenek.

"Mbah ngga ngasih kamu izin keluar, di sini lagi ada peristiwa yang membuat warga resah, sejak Dewi pulang kemarin, ada beberapa warga yang sering melihat penampakan mahluk halus, mengitari rumah Mbah dan Mbah harap Dewi jangan keluar rumah, tanpa didampingi Mbah Putri atau Mbah Laki, paham Wi?" tanya Nenek.

"Iya, Mbah," jawabku lesu.

Segera langkah kaki ini menuju ke kamar. Mencoba mencerna ucapan Nenek tadi walau rasa kangen ini sudah kian memuncak. Segera kuambil hp, mencari f 0 t o Adi sewaktu terakhir kita bertemu dan selfie bersama.
Namun ... mengapa f 0 t o Adi menghilang, hanya ada wajahku sendiri? Aneh ...

***

Ini malam jumat, kata Nenek jumat kliwon. Tiba-tiba ...
Tong ... tong ... tong ... terdengar suara kentongan bersahut-sahutan dari segala penjuru.

"Dewi, jangan keluar rumah! Jangan jauhjauh dari Mbah Putri!" Teriak Kakek setengah berlari keluar, sementara Bibik mengunci pintu dengan segera.


Kulihat Nenek sedang mengaji dengan khusyu'.
"Wi, sini!"
Bergegas diri ini duduk di samping Bibik.

"Sudah hampir 40 hari yang lalu, ada seorang pemuda di sini, yang meninggal bunuh diri di pohon akasia, pinggir sungai Cirarap. Kata orang sih dia frustasi ditinggal pacarnya anak desa sebelah yang bekerja di luar daerah dan kemudian menikah di sana. Setelah kepulangan Dewi liburan kemarin, beberapa orang warga melihat sosok pemuda itu yang sering datang ke rumah ini. Hampir setiap malam berkeliling di luar. Peristiwa ini sangat menghebohkan warga, bahkan orang tuanya juga ... bla ... bla ... bla ...," panjang lebar Bibik bercerita. Sementara tanpa terasa mata ini basah dan segera kuberlari sambil terisak menuju kamar.

"Adi ...," gumamku

***

Esoknya, Nenek mengajakku keluar. Ternyata kami bersilaturahmi ke rumah Pak Wijaya, tetangga Nenek dan juga orang tua Adi.
Mereka berbincang-bincang sesaat, kemudian ...

"Ini Dewi, cucu saya dari Jakarta ... bla ... bla ... bla ...." Nenek bercerita tentang pertemuanku dengan Adi selama liburan kemarin.
Terdengar isak tangis Ibunya Adi. Pandangan mata ini terus mencari, akhirnya berhenti pada sebuah figura, yang berisi f 0 t o Adi, ya ... Adi yang kukenal kemarin. Tiba-tiba pandangan ini kian nanar dan ...

"Wi!" teriak Nenek karena melihatku pingsan.
Setelah siuman, segera kami berziarah ke makam Adi. Di sana sudah ada Kakek dan beberapa orang warga dan Ustadz di Kampung ini. Kupandangi nisan Adi, tertulis di sana Adi Saputra ...

***

Peristiwa itu masih membayang hingga kini ...
Untukmu Adi Saputra ... Cinta alam mayaku

Catatan:
• Jika ada kesamaan nama dan tempat kejadian, itu memang tidak direkayasa.

Ditulis oleh: DewyRose.
Bkz, 19.02.17 11:30

Sekedar informasi Puisi-puisi yang ada di blog Pdkb sebagian bersumber dari status/karya member grup pdkb di facebook

Jika ada pembaca yang ingin berpartipasi puisi silahkan di kirim KE SINI
Dan Untuk berlangganan update Dari blog Puisi dan kata bijak ketikkan email anda di form di bawah ini :
icon

disqus comments

 
INFO KLIK