Recent Posts
Loading...

Author :
Puisi dan kata bijak. Puisi hanacaraka. Ranumnya cinta kasih bertabur suka piawai, bijak merawat adiwarna jiwa raga dalam merak ati pemasti setaka berlulur luluh, sabar, manut, lapang dada, kukuh meredam segala dinamika di repertorium kiprah momong, momor, momot seserindai berlaksa harmonika

Pragraf diatas salah satu penggalan bait dari puisi berjudul hanacaraka dikesempatan ini, bagaimana cerita dan makna puisinya untuk lebih jelasnya, silahkan disimak saja puisinya berikut ini.

HANACARAKA
Karya: Samanta

Kueja asri akhlakmu di altar berangta ha, na, ca, ra, ka
engkau wanita, wani tapa, berani menderita tatkala lara membuai nasib beraneka
nrima menjalani ma telu, masak, macak, manak, tanpa pernah kusut muka
teguh memeran wadon penjaga rahasia dinasti di ranah etika
mengawal ketat pawestri di keramatnya tilam romantika
rohmu adalah putri, pametri, tempat wanodya melestarikan estetika
berpendarlah retna di auramu pembenderang alam fana hingga darulbaka

O, wangi kusuma di moleknya budi bahasa di jantung asmaraloka
terjerembab diri di ketulusan memanis semerdu lusinan balalaika
kuikhlas tertidur abadi dalam rengkuh dayita yang demikian jatmika
karena juwita senantiasa mematri bahagia di taman wiweka

Di pelaminan da, ta, sa, wa, la bersemayam setya sehidup semati dalam suka dan duka
diiringi bekti yang gigih menjaga kehormatan dirimu serta segenap saka baka
mituhu pun khusyuk menaati imam batih di siratalmustakim Sang Maha Paduka
kian kokohlah mitayani bertakhta di sukmamu nan nirmala, amanah, bebas dari neraka
maka kun0batkan dirimu satu-satunya sigaraning nyawa yang mustahil leka
engkaulah semata dewi mumpuni penata pawon, paturon, pangreksa di antero suaka

Kureguk gemi, nastiti, ngati-ati di astana pa, dha, ja, ya, nya di jagat darmamu yang sungguh langka
dengan itu rumah tangga ceria selamanya merdeka dari semua malapetaka

Dan di pamungkas ma, ga, ba, tha, nga menjelmalah dirimu ratu mestika di tiang saka
gemati mengempu suami, anak cucu, di ranumnya cinta kasih bertabur suka
piawai, bijak merawat adiwarna jiwa raga dalam merak ati pemasti setaka
berlulur luluh, sabar, manut, lapang dada, kukuh meredam segala dinamika
di repertorium kiprah momong, momor, momot seserindai berlaksa harmonika

Bumi Allah, 18 Desember 2016


FAKTA:

>> Dalam falsafah Jawa, ada sepuluh karakteristik dasar perempuan yang ideal, yaitu

  1. wanita (singkatan dari “wani ditata” yang artinya “ikhlas untuk diatur oleh sang suami”, juga “wani tapa” yang bermakna “berani menderita” antara lain mengandung bayi selama sembilan bulan lantas menyusuinya selama dua tahun kemudian merawatnya hingga bertahun-tahun, semua ini mustahil bisa dilakukan kaum pria), 
  2. wadon (pandai menjaga rahasia keluarga); 
  3. pawestri (berusaha menjaga kesucian diri); 
  4. putri (secara etimologis berasal dari kata “pametri” atau “telaten memelihara tubuhnya demi sang suami”); 
  5. wanodya (memelihara kecantikan lahir dan batin demi sang suami); 
  6. retna (permata hati sumber keceriaan keluarga); 
  7. kusuma (bunga, simbolisasi dari keharuman dan keindahan dalam bertutur kata); 
  8. memanis (manis, menyenangkan, serta konsisten antara pikiran, perkataan dan perbuatan); 
  9. dayita (selalu berusaha menyenangkan hati suami); 
  10. juwita (selalu berhati-hati dan waspada agar tidak pernah menyakiti hati siapapun).

>> Sebagai wanita, seorang perempuan harus mampu menjalani “ma telu” (tiga M), yaitu masak, macak (bersolek agar nampak rapi dan sopan), dan manak (memberi keturunan).

>> Selaku istri, setiap perempuan sebaiknya mengadopsi empat nilai utama, yakni

  1. setya (sehidup semati dalam suka maupun duka, di dunia hingga akhirat); 
  2. bekti (berbakti pada suami); 
  3. mituhu (taat pada suami, asalkan sang suami membimbingnya ke jalan yag lurus); dan 
  4. mitayani (amanah, bebas dari perbuatan tercela).

>> Perempuan yang memenuhi semua kriteria tersebut bagi suaminya merupakan sigaraning nyawa (belahan jiwa). Guna memelihara kualitas ini, seorang perempuan sebaiknya terampil menata pawon (dapur dan kesinambungan asap dapur), paturon (ranjang asmara), dan pangreksa (ekonomi rumah tangga). Dalam konteks ini, ia perlu memelihara tiga sifat dasar, yaitu gemi (rasa memiliki), nastiti (cermat dan teliti), dan ngati-ati (waspada).

>> Dengan membudayakan semua sikap dan perilaku luhur tersebut, maka seorang perempuan layak dianggap sebagai “ratu” dalam rumah tangganya. Untuk itu, ia perlu senantiasa menata tiga hal utama:

  1. gemati (piawai dan bijak dalam berbagi kasih serta melayani suami dan anak-anaknya); 
  2. merak ati (piawai dan bijak melestarikan kecantikan lahir dan batinnya demi kebahagiaan keluarga); dan 
  3. luluh (sabar, patuh, dan lapang dada). Dengan akhlak luluh ini ia akan lebih mudah menangani tiga misi terbesarnya, yaitu momong (memelihara dan membangun berbagai hal yang positif dan konstruktif), momor (berinteraksi atau memelihara ukhuwah dengan lingkungan sosialnya), dan momot (memelihara rahasia dan kehormatan keluarga).


KOSAKATA:

>> hanacaraka abjad bahasa Jawa dan Sunda berjumlah 20 lambang (disebut ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga)
>> berangta = berahi; cinta kasih
>> nrima = sikap menerima sesuatu sebagaimana adanya
>> darulbaka = alam yg kekal (akhirat)
>> asmaraloka = dunia (alam) cinta kasih
>> balalaika = alat musik dari Rusia seperti biola berbentuk segitiga dan berdawai
>> jatmika = selalu sopan santun (tentang tingkah laku, gerak-gerik dll)
>> wiweka = (1) sangat berhati-hati; (2) sikap berhati-hati (thd segala masalah)
>> saka baka = keluarga nenek moyang dr pihak ibu dan bapak
>> batih = orang seisi rumah yg menjadi tanggungan seseorang
>> nirmala = tanpa cacat cela; bersih; suci; tdk bernoda
>> suaka = tempat mengungsi (berlindung), menumpang (pd), menumpang hidup (pd)
>> astana = istana
>> mestika = (1) batu hablur yg sakti (terdapat dl kepala ular, teripang, dll); (2) batu permata yg berharga (spt intan); (3) yg terelok; yg tercantik
>> saka = (1) tiang rumah; (2) kp pusaka (bendera); (3) keluarga dr pihak ibu; (4) pangkat adat dr kaum yg bersifat turun-temurun
>> adiwarna = indah sekali; bagus sekali
>> setaka = astaka; singgasana; kursi kerajaan
>> repertorium = (1) repertoar; persediaan nyanyian, lakon, opera yg dimiliki seseorang atau suatu kelompok seni yg siap utk dimainkan; (2) daftar lagu, judul sandiwara, opera, dll yg akan disajikan oleh pemain musik, sanggar penyanyi, dll; (3) perbendaharaan bahasa (dialek, ragam) yg dimiliki oleh seseorang atau masyarakat
>> serindai = enak didengar (tt suara); merdu

Demikianlah puisi hanacaraka. Simak/baca juga puisi puisi yang lain karya Samanta (Sang mahadewa cinta) di blog ini. Semoga puisinya menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

disqus comments

 
INFO KLIK