Breaking News
Loading...

Puisi dan kata bijak. Puisi berlalu semusim yang membiru. Semusim berasal dari kata dasar musim, yang artinya satu musim, dan pengertian musim adalah salah satu peristiwa yang terjadi di bumi dalam jangka tahunan, umumnya berdasarkan pada perubahan waktu setahun atau berdasarkan kondisi cuaca.

Berlalu semusim yang membiru judul puisi ini bukan menceritakn tentang peristiwa alam seperti yang kita ajelaskan di atas tetapi, maksud dari kalimat berlalu musim yang membiru jika membaca dari bait puisinya adalah peristiwa sepasang kekasih yang sering berselisih paham, dan ketika pehaman pehaman yang salah di jelaskan sedetail permasalahan, perlahan saling memahami, perselisihan tak terjadi lagi.

Mungkin begitulah kira kira makna dari puisi berlalu semusim yang membiru, yang paling mengerti memaknai puisi adalah orang yang menulis puisinya, sebab terkadang, puisi itu kata yang di gunakan tak sama arti dari sesungguhnya. hanyalah penulisnya yang paling tahu maksud yang dia tulis, pembaca hanya bisa meraba raba maknanya.

Berlalu semusim yang membiru, hanya gabungan dari kosakata dua judul puisi yang di tulis oleh Sri Astuty asdi, kedua puisi tersebut
  • Puisi semusim yang membiru
  • Puisi Yang berlalu.
Salah satu baitnya. "Prahara peralihan dua musim merambah Perlahan mengucap dingin sehabis gerah Mentari sekali-kali saja menyaji cerah, Menangisi larik-larik di secarik kertas Basah di perdu malam, merintih pada kelam".  Selengkapnya dari bait ini, silahkann di baca/simak puisinya di bawa ini.

SEMUSIM YANG MEMBIRU
Karya : Srie Astuty Asdi

Tapak November masih menjejak di Desember
Beraroma luka pada gugur dedaun bercecer
Lembab, menampi gerimis tak henti mencecar
Aku kuyup di lautan duka, berselancar

Prahara peralihan dua musim merambah
Perlahan mengucap dingin sehabis gerah
Mentari sekali-kali saja menyaji cerah
Namun berpulang ke awan, kembali basah

Hujan, lahirkan gigil paling beku
Berkecamuk di raga sebagai rindu
Memimpi setelahnya hadirkan pelangi sendu
Memanja, berharap jumpa di Januari biru

Kemilau Mata Bening
Makassar, 02/12/2016

YANG BERLALU
Karya : Srie Astuty Asdi

Rapuh pada kedalaman tak berbatas
Menangisi larik-larik di secarik kertas
Basah di perdu malam, merintih pada kelam
Tentang setangkup rindu yang mulai buram

Kucoba biarkan, kucoba hempaskan
Riuh lambaian merupa lembut bisikan
Segala empati mendekati kupekakkan
Pupus gairah diri, perlahan asa pun memati

Engkau dahulu menyusup dalam belaian sepi
Menemui penat sembari kau pasung jeruji
Tak tampak, sehalus mengukir mimpi
Terhidang nyanyian meraup angan suci

Kemilau Mata Bening
Makassar, 05 Desember 2016

Demikianlah puisi berlalu semusim yang membiru. Simak/baca juga puisi puisi yang lain Karya Srie Astuty Asdi (Kemilau Mata Bening) di blog ini. Semoga puisi di atas dapat menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

Sekedar informasi Puisi-puisi yang ada di blog Pdkb sebagian bersumber dari status/karya member grup pdkb di facebook

Jika ada pembaca yang ingin berpartipasi puisi silahkan di kirim KE SINI
Dan Untuk berlangganan update Dari blog Puisi dan kata bijak ketikkan email anda di form di bawah ini :
icon

disqus comments

 
INFO KLIK