Skip to main content

Puisi Realita | Puisi Kritik Sosial Tentang Kerusakan Alam

Puisi Realita | Puisi Kritik Sosial Tentang Kerusakan Alam

Puisi Kritik Sosial Tentang Alam | Puisi realita hijau makin hilang. Realita adalah kenyataan tidak bisa direduksi dari satu sisi saja, entah itu sisi positif ataupun negatifnya.

Orang yang hanya membicarakan realita sebagai wacana yang selalu positif adalah orang yang terkadang menutupi hitam putih suatu kenyataan

Berkaiatn dengan kata realita, puisi yang dipublikasikan blog puisi dan kata bijak kali ini adalah puisi kritik sosial tentang kerusakan alam.

Dan puisi realita hijau makin hilang adalah judul salah satu puisi kritik sosial yang diterbitkan puisi dan kata bijak, adapun masing masing judul puisinya antara lain:

  1. Puisi hijau makin hilang
  2. Puisi realita
  3. Puisi wadah rindu pun hilang

Salah satu penggalan bait dari ketiga puisi tersebut. "Kelelawar berputar melibas serangga peresah malam parade nyamuk bergerombol bergema kabar rimba kebakaran asap membumbung, Cukong sombong sembumyi ketika toko nya di obrak abrik warga".


Puisi Kritik Sosial Tentang Kerusakan Alam

Bagaimana kata kata kritik sosial dalam bait puisi kritikan terhadap kerusakan alam, untuk lebih jelasnya, selengkapnya disimak saja puisinya berikut ini.


PUISI REALITA
Husain Ismail

Ini satu cerita dari pinggiran kota
yang jelas sebagai satu realita
ada seorang cukong keturunan raja Namrud
meraup untung dinegeri yang di sebut Zamrud

Untuk sosialisasi ia pergi naik haji
supaya nanti,mudah memperkaya diri
yang aku tau ia tidak bisa ngaji
apa lagi kitab sudah pasti tak mengerti

Cukong Ahong sombong
sembumyi di balik sarung
ketika toko nya di obrak abrik
oleh warga
miras yang di jual meracuni para pemuda

Hasil bumi di timbun membuat resah kaum susah
belum lagi BBM di oplos dengan limbah
celaka ini dia benar benar tercela
atau mungkin juga dia sudah gila.

Buat ulah kok di negeri orang,.ya jelas saja kami garang.

NGAWI,201116,HUSAIN ISMAIL


Puisi Hijau Makin Hilang
Husain Ismail

Dari balik gaung penghijauan
justeru bergema kabar rimba kebakaran
asap membumbung menghitamkan harapan

Haruskah ini di biarkan berjalan
ladang yang tak pasti
tumbuh di atas ladang hidup yang mati

kesuburan satu perut yang sudah gendut
menghancurkan kesejahteraan
yang kini terenggut

Belum kau raihkah mimpimu
di tumpukkan pohon tumbang
tak penuhkah hasratmu
ataukah lenyap sudah malumu

Biarkan hijau terhampar
usah coba lagi hitamkan langit
biarkan kesejahteraan tumbuh alami
dari pori pori negeri ini.

Rimba raya,221116,Husain Ismail


Puisi Wadah Rindu pun Hilang
Husain Ismail

Nyanyi katak sahut menyahut
tak henti derik jangkrik
menyapa sang bulan
menyambut malam di pantulan cahaya bintang

Kelelawar berputar
melibas serangga peresah malam
parade nyamuk bergerombol
mendengungkan melodi
usik ketenangan.

Kunang kunang terbang rendah
pancarkan sepi cahaya hati
berkedip bermain mata dengan ilalang.

Gubuk kecil di tengah ladang
tempat kami dulu berdendang
rumpun bambu yang dulu rindang
tempat kami teduhkan diri

semuanya telah pergi
bersama tawa sahabat
berganti kini
dengan desah kaum maksiat

Jakarta,211116,Husain Ismail


Demikianlah puisi realita hijau makin hilang. Simak/baca juga puisi puisi yang lain di blog ini. Semoga puisi di atas menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.