Recent Posts
Loading...

Author :
Cerita dan Puisi Horor Pembiusan Cinta dua | Berberapa hari ini, gadis lebih banyak termenung di tempat kerja. Selain karna takut melewati jalan itu, juga karna suara, surat, dan mimpi aneh tak mau hilang dari kepalanya.

"Hai Dis, makan yuk !"
Mira temannya, mengejutkan dari belakang.
"Aduh..., kamu nih hobynya ngejutin orang mulu."
"Habis..., kulihat akhir-akhir ini kamu banyak termenung. Ada apa sih ?"
"Ah...gak ada apa-apa kok, cuma mumet aja ama kerjaan nih."
"Ya udah, yuk....lapar ini !"
"Duluan aja, ntar aku nyusul deh."

Mira beranjak pergi, meninggalkan gadis yang masih saja melamun.

***

Walau takut, tapi akhirnya gadis kembali melewati jalan itu lagi. Terlalu lelah, untuk melintasi jalan lain yang lebih jauh, sedangkan hari sudah malam dan rasa capek ingin segera sampai ke rumah beristirahat lebih menguatkan langkahnya.

Matanya lurus ke depan dan tidak berminat untuk menoleh, apalagi menikmati malam seperti kemaren-kemaren ia lakukan. Pikirannya hanya satu, ingin segera sampai dan tidur.

Kerinduan rasa menggapai bara...
Saat dada di penuhi cinta...
Lintasan kejora memukau mata...
Terpaku bisu panah asmara...

Gadis terperanjat dan kakinya berhenti tiba-tiba, tak perlu mencari dan bingung lagi. Di sana, tepat di depannya, seorang pria bersandar di tiang
lampu jalan, dengan wajah melihat pada barisan bintang-bintang di angkasa. Rambut ikalnya yang panjang, sebagian menutupi wajah karna tertiup angin dan postur tubuhnya yang tinggi dan kekar menakutkan gadis, hingga bergerak mundur.

Namun sayang tidak selangkah pun, kakinya bergerak mundur, juga matanya tak dapat berpaling dari sosok misterius itu.
Dadanya terasa sakit, berpacu darah dengan detak jantung yang lebih kuat dari biasanya. Udara jauh lebih dingin, dan gadis terpaku beku di tempat, mendengarkan suara itu lebih jelas membacakan puisi, mirip dengan suara yang ada di mimpinya.

Kekasih hati membelai sukma...
Percikan mimpi taburan bunga...
Paras menawan terpatri dada...
Lilitkan jemari satukan kata...

Tiba-tiba pria itu menoleh, dan menatap gadis dengan pandangan aneh. Senyum kecil terukir di wajahnya yang dingin, membuat gadis kian takut, dengan jemari tangan yang sudah basah oleh keringat dingin. Mata itu sangat tajam menusuk hingga ke tulang-tulang, rasanya akan segera runtuh, dan ambruk. Gadis berdo'a di dalam hati untuk dapat memejamkan matanya, agar tidak pingsan saat di lihatnya pria itu beranjak mendekat. Ingin berteriak namun hanya desah serak, yang keluar dari mulut saat pria itu sudah semakin dekat padanya.

Lautan muara bias sepasang mata...
Bening permukaan mendinginkan luka...
Hasrat tersapu puncak asmara...
Geliat merona kecupan rasa...

Gadis terpejam dengan air mata yang sudah menetes di pipi, takut menyerangnya amat hebat, saat langkah itu telah kian dekat. Tercium keharuman yang aneh pada hidungnya, bau ini sama dengan surat malam itu.

Kakinya tiba-tiba lumpuh dan jatuh terduduk, saat bibirnya di cium pria aneh itu. Tak dapat berontak atau memaki, seluruh indranya seakan beku menghentikan putaran waktu. Ada perasaan aneh di hatinya, ciuman ini hangat dan amat lembut, gadis seakan mengenal rasa yang menyentuh bibirnya saat keharuman itu menjauh dan menghilang.

Air mata semakin deras membasahi pipi, isaknya tak tertahan memecahkan dada dan kepala. Emosi diri melanda ketidak berdayaan, logikanya tak dapat menyatukan tiap-tiap kejadian ini menjadi sesuatu yang pasti. Terduduk di jalan, mata hanya menatap hening dan sunyi, pria itu telah hilang. Pikiran kacau memaksanya beranjak dan berlari, dalam ketakutan itu gadis hanya mengharap cepat sampai ke rumahnya.

***

Sambil membuka kunci pintu dan air mata yang tak terasa masih menetes, gadis benar-benar bingung dengan semua ini. Siapakah pria itu, datang dan pergi bagai angin, dan kenapa harus mengganggunya dengan semua misteri ini.

Perasaan lelah dan pikiran yang kacau, telah membuatnya malas untuk beraktifitas lagi di rumah. Baru saja ia akan berbaring, matanya terkejut melihat sepucuk surat di atas batal, berwarna merah menyala sama dengan malam itu, namun ada setangkai mawar bersama hadirnya.

Oh Tuhan, bagaimana surat ini ada di sini, gadis beranjak memeriksa semua pintu dan jendela, mencari dari mana orang itu masuk. Semua masih rapat terkunci dan tak ada tanda-tanda di bongkar paksa. Kembali ke kamar, gadis hanya terpaku di kursi menatap surat itu, ia yakin isinya pasti sama. Tak ada keberanian mendekat dan membukanya, aroma yang sama membuatnya takut dan ciuman itu seakan kembali serta menggigiti bibirnya.

Malam semakin larut, namun gadis tetap duduk sambil melamun. Ia tak ingin tidur, takut akan mimpi yang sama mendatanginya. Masih cukup jelas di ingatan, dalam mimpi itu, gadis bersama seseorang yang tak begitu jelas wajahnya. Di atas tempat tidur yang mewah, lengkap dengan pilar-pilar dan kelambu yang berenda, sutra merah menyala, ia terlena di bawah rayuan dengan berc!nta bersama pria yang bagaikan bayang-bayang sosoknya. Ketika pandangan kami bertemu, saat itulah ia menjerit dan terbangun.

Hari telah berganti, gadis melihat jam menunjukkan pukul 4 pagi, di hembuskan olehnya nafas lega dan mencari hp di dalam tas, untuk menghubungi mira yang mungkin sudah bangun, ia ingin mengatakan bahwa hari ini tidak masuk kerja, pikirannya kacau dan butuh istirahat di rumah.

***

Angin Malam
28112015

Demikianlah Cerita dan Puisi Horor Pembiusan Cinta. Simak/baca juga puisi yang lain di blog ini, semoga menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.

disqus comments